Evanescene-Bring Me to Life

Rabu, 21 Maret 2012

KARYA KITA

    Jelata di Negeri Kaya
Di lumbung padi yang melimpah mereka meronta-ronta
Di tambang emas yang kaya mereka menjerit-jerit
Mereka bagaikan kain perca yang terbuang
Singgasana yang mereka cintai sudah mencampakkannya
Hanya para penguasa yang bisa hidup nyaman di singgasananya
Para penguasa membunuh para jelata dengan kejamnya
Negeri ini memang penuh fiktif belaka
Kaum jelata seolah-olah menjadi budak para penguasa
(oleh: Albar Y.)
    Pada Suatu Negara
Para penguasa negara
janjimmu hanya omong kosongmu
janjimu hanya ucapan manis
yang terasa pahit
gaya hidupmu hanyalah barat
tetapi tingkahmu hanyalah
kawanan bajing loncat

Para penguasa negara
yang memikirkan egomu
rakyat pun bingung kerjamu
bisamu cuma bilang “atas nama rakyat:
demi kesejahteraan rakyat”
tapi rakyat mana yang kamu bela
semua sama saja
mereka hanyalah korban
para penguasa negara.
(oleh: Murdhiana Hendra)
    Kisah Negeriku
Negeriku yang dulu
Bagaikan negeri imajinasi
Indah alamnya bak lukisan tiga dimensi
Udara nan sejuk tanpa polusi
Kuatkan hasrat tuk menikmati

Sementara penduduk negeriku
Memiliki martabat dan reputasi
Banyak Negara berikan apresiasi
Waktu bukan dari segi intelegensi dan teknologi
Tapi karena budaya yang khas dan beragam
Masyarakat yang ramah dan religi serta bermoral
Serta generasi yang berprinsip, bermental

Tapi kini…
Negeriku seperti ini
Negeri yang penuh polusi
Negeri yang dipenuhi korupsi
Menyengsarakan rakyat sendiri
(oleh: Yunia P.)
    Ibunda Tersayang
Ibu...selalu mendoakan setiap langkahku
Menjalani hari menjempu citaku
Ibu…selalu memberikan kekuatan kepadaku
Dikala aku sedih dan senang

Bercucuran air mata bila teringat
betapa besar budi ibu berikan kepadaku
Sungguh besar pengorbanan yang ibu berikan
hingga tidak pernah ku lupakan

Di saat kita berjauhan
Rasa ingin pulang selalu menghampiriku
Di setiap malam, ku rindu belaian lembut darimu
Setiap malam mata ini sulit kupejamkan

Ibu doamu selalu kunanti
Siang malam ku selalu teringat kepadamu
Tak aka nada bahagia jika tiada
Doa dan resu yang ibu berikan kepadaku
Oh…ibu ku tersayang
(oleh: Tri W.)
    Sebuah Keberanian
Ku akui langkah ini tak secepat langkahmu
Ku akui jiwa ini tak seputih jiwamu
Ku akui ku tak seberani dirimu

Tapi lewat tulisan-tulisan kecilmu ku dapat sebuah keberanian itu
Setiap kata yang kau tulis mengandung makna
Kau bak angin membawa harumnya bunga mawar bagiku

Setiap derap langkahmu membawa sejarah baru
Kau ciptakan sejarah itu karna kau mampu
Kau adalah inspirasi bagiku
Dan bagi semua generasi muda negeri ini
(oleh: Ida)
    Pahlawan Devisa
Di awal musim
Telah kutanam sejumlah mimpi
Pada padang yang luas
Siapa tahu esok pantas dituai

Namun, pada akhir persinggahan
Aku menemukan segala yang palsu
Dalam kebisuan kusuh
Dalam sebuah kebungkaman dusta

Ke mana kularikan tangis
Jika matamu tetap mengurungku
Sedang orang-orang selalu menggusur ratap
Demi ratap aku dan sunyi

Maka kirimi aku pisau, ibu…
Penyembelih rintih yang kutahan-tahan
Sepanjang perantauan
Mereka bilang saya pulang jadi jutawan
Tapi kubilang: Persetan!
Kamilah pahlawan devisa
Yang tak tersisa
(oleh: Ary Indah Mustikasari)

Catatan : Bermimpilah selagi kau bisa bermimpi, Langkahkan selebar mungkin kakimu
Lihatlah mimpi yang kau torehkan dalam sejarah hidupmu
Dan lihatlah mimpimu dalam genggamammu.

Calon Guru Bahasa dan Sastra Indonesia


Bahasa Indonesia adalah bahasa persatuan negara Indonesia yang menyatukan beranekaragam bahasa daerah seluruh masyarakat Indonaesia. Kita sebagai masyarakat Indonesia sangat beruntung memiliki bahasa Indonesia, walaupun sebenarnya bahasa Indonesia berakar dari bahasa Melayu Riau. Akan tetapi, sekarang keduanya memiliki kedudukan masing-masing sebagai suatu bahasa dan keduanya merupakan bahasa yang serumpun tetapi tidak sama. Bahasa Indonesia berkembang sesuai dengan aturannya dan bahasa Melayu berdiri sendiri menuju perkembangannya. Kita sebagai pemilik bahasa Indonesia tidak bermaksud atau bersikap seperti “kacang yang lupa akan kulitnya”, melupakan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Mungkin tanpa bahasa Melayu, bahasa Indonesia tidak akan pernah ada.
Seharusnya kita memposisikan bahasa Indonesia pada posisinya, seperti yang telah termaktub dalam Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda mengikrarkan tiga hal yang sakral dalam sejarah dan proses kemerdekaan Indonesia, satu diantaranya adalah “Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia. Menjunjung berarti menurut, menaati dan memuliakan (KBBI). Menjunjung tinggi bahasa Indoensia, berarti menaati dan memuliakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan nasional Indonesia. Demikianlah sumpah yang diikrarkan oleh pemuda-pemudi bangsa Indonesia pada tahun 1928. Bagaimana dengan pemuda-pemudi Indonesia sekarang? Pudarnya bahasa Indonesia di negaranya sendiri merupakan sebuah hal yang patut menjadi perhatian khusus. Jika kedudukan bahasa Indonesia dibiarkan untuk terus digeser oleh bahasa-bahasa lainnya, maka otomatis bahasa Indonesia tidak akan pernah lagi dikenal oleh para generasi penerus. Melihat kondisi pemakai bahasa Indonesia saat ini, penggunaan bahasa Indonesia yang berkelit dan selalu berpedoman kepada yang baik dan benar sulit dihindari. Masyarakat pada umumnya beranggapan bahwa “Yang penting apa yang ingin kita sampaikan orang mengerti dan paham, mau pake bahasa campur aduk, saya mau pake bahasa Indonesia campur bahasa Inggris, campur lagi dengan bahasa daerah, toh yang baca juga paham. Cape deh, please dong jangan diperbesar masalah-masalah kecil kayak gini”.
Benar dan pantaskah bila kita sebagai pemilik bahasa Indonesia berasumsi demikian? Masyarakat Indonesia pada umumnya dwibahasawan. Bukan berarti kita bisa seenaknya mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa lain tanpa berpedoman pada aturan dan kaidah yang ada. Bersikap positiflah terhadap bahasa Indonesia, karena bahasa yang kita gunakan menunjukkan kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia. Jepang dan Prancis adalah contoh negara yang sangat taat dan menghargai bahasanya sendiri. Pernahkah kita berpikir bahasa Indonesia esok akan menjadi bahasa peradaban dunia?
Bukan hal yang mustahil jika bahasa Indonesia esok akan menjadi bahasa peradaban dunia, karena bahasa Indonnesia digunakan sebagai bahasa internasional. Dilihat dari struktur dan pembacaan bahasa Indonesia yang sangat sederhana, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak sulit untuk dipelajari. Suatu bukti yang meyakinkan bila esok bahasa Indonesia akan menjadi bahasa peradaban dunia, lebih dari 50 negara di dunia telah mempelajari dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai salah satu diantara mata pelajaran di sekolah mereka. Kita pemilik bahasa Indonesia harus banggga karena bahasa kita dipelajari bangsa lain. Mengapa kita harus belajar bahasa asing, bila bahasa kita kelak mampu menjadi bahasa internasional dan bahasa peradaban dunia? Jawaban dari pertanyaan tersebut ada pada diri kita sebagai pemilik bahasa Indonesia.
Di samping pudarnya pemakaian bahasa Indonesia, sastra Indonesia semakin menunjukkan eksistensinya di dunia pendidikan. Pendidikan bahasa Indonesia merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para siswa di sekolah. Tidak heran, pelajaran ini diberikan sejak masih dibangku SD hinga lulus SMA. Pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal dari ke hari mengalami berbagai persoalan. Keluhan-keluhan para guru, subjek didik, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat apresiasi sastra selama ini menjadi bukti kongkret adanya sesuatu yang tidak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan formal.
Beberapa permasalahan dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu, pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru sangat terbatas. Belum semua guru menguasai materi kesastraan yang akan mereka ajarkan di sekolah-sekolah. Materi kuliah kesastraan yang mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Selain itu, buku dan bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah, khususnya di SMP dan SMA juga terbatas. Keterbatasan buku penunjang ini tidak terjadi di SD, khususnya di daerah perkotaan, karena setiap tahun menerima kiriman buku bacaan dari Proyek Perbukuan Nasional Depdikbud.
Hanya saja, pemanfaatan buku bacaan tersebut tampaknya belum maksimal karena ada faktor lain yang berkait dengan ini, yaitu faktor minat siswa atau subjek didik. Minat belajar dan minat membaca para siswa masih sangat rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah, dan dorongan dari guru menjadi penyebab utama dalam hal ini. Berbagai kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik belum menggembirakan.
Beranjak dari berbagai keluhan yang dikemukakan di atas, tampaknya ada beberapa hal yang perlu dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah dengan menggunakan acuan kurikulum yang diberlakukan saat ini. Pertama, dalam Kurikulum 1994 yang diberlakukan di SD, SMP, ataupun SMA disebutkan bahwa pengajaran sastra dalam berbagai aspeknya diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para siswa sesuai dengan tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada siswa. Apresiasi sebagai sebuah istilah dalam bidang sastra dan seni pada umumnya lebih mengacu pada aktivitas memahami, menginterpretasi, menilai, dan pada akhirnya memproduksi sesuatu yang sejenis dengan karya yang diapresiasikan. Kegiatan apresiasi tidak hanya bersifat reseptif yakni menerima sesuatu secara pasif, tetapi yang lebih penting apresiasi juga bersifat produktif yakni menghasilkan sesuatu secara aktif. Karena itu, pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal idealnya tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre tertentu untuk dipahami dan diinterpretasikan oleh siswa (apresiasi reseptif). Pengajaran sastra harus diarahkan pada penumbuhan kemampuan siswa dalam menilai atau mengkritik kelebihan dan kekurangan teks yang ada. Sebagai calon guru bahasa Indonesia dan sastra daerah, kita harus membekali diri dengan pengalaman-pengalaman yang nantinya dapat dipresentasikan di depan peserta didik. 

(oleh: Ida Anom Handayani )