Minggu, 27 Mei 2012
Be A Winner: Tugas Akhir Mata Kuliah Evaluasi Pengajaran Bahasa...
Be A Winner: Tugas Akhir Mata Kuliah Evaluasi Pengajaran Bahasa...: Tugas akhir mata kuliah Evaluasi Pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia silakan diunduh di sini
Rabu, 21 Maret 2012
KARYA KITA
Jelata
di Negeri Kaya
Di tambang emas yang
kaya mereka menjerit-jerit
Mereka bagaikan kain
perca yang terbuang
Singgasana yang
mereka cintai sudah mencampakkannya
Hanya para penguasa
yang bisa hidup nyaman di singgasananya
Para penguasa
membunuh para jelata dengan kejamnya
Negeri ini memang
penuh fiktif belaka
Kaum jelata
seolah-olah menjadi budak para penguasa
(oleh:
Albar Y.)
Pada
Suatu Negara
Para penguasa negara
janjimmu hanya omong
kosongmu
janjimu hanya ucapan
manis
yang terasa pahit
gaya hidupmu
hanyalah barat
tetapi tingkahmu
hanyalah
kawanan bajing
loncat
Para penguasa negara
yang memikirkan
egomu
rakyat pun bingung
kerjamu
bisamu cuma bilang
“atas nama rakyat:
“demi
kesejahteraan rakyat”
tapi rakyat mana
yang kamu bela
semua sama saja
mereka hanyalah
korban
para penguasa negara.
(oleh:
Murdhiana Hendra)
Kisah
Negeriku
Negeriku yang dulu
Bagaikan negeri
imajinasi
Indah alamnya bak
lukisan tiga dimensi
Udara nan sejuk
tanpa polusi
Kuatkan hasrat tuk
menikmati
Sementara penduduk
negeriku
Memiliki martabat
dan reputasi
Banyak Negara
berikan apresiasi
Waktu bukan dari
segi intelegensi dan teknologi
Tapi karena budaya
yang khas dan beragam
Masyarakat yang
ramah dan religi serta bermoral
Serta generasi yang
berprinsip, bermental
Tapi kini…
Negeriku seperti ini
Negeri yang penuh
polusi
Negeri yang dipenuhi
korupsi
Menyengsarakan
rakyat sendiri
(oleh:
Yunia P.)
Ibunda
Tersayang
Ibu...selalu
mendoakan setiap langkahku
Menjalani hari
menjempu citaku
Ibu…selalu
memberikan kekuatan kepadaku
Dikala aku sedih dan
senang
Bercucuran air mata
bila teringat
betapa besar budi
ibu berikan kepadaku
Sungguh besar
pengorbanan yang ibu berikan
hingga tidak pernah
ku lupakan
Di saat kita
berjauhan
Rasa ingin pulang
selalu menghampiriku
Di setiap malam, ku
rindu belaian lembut darimu
Setiap malam mata
ini sulit kupejamkan
Ibu doamu selalu
kunanti
Siang malam ku
selalu teringat kepadamu
Tak aka nada bahagia
jika tiada
Doa dan resu yang
ibu berikan kepadaku
Oh…ibu ku
tersayang
(oleh:
Tri W.)
Sebuah
Keberanian
Ku akui langkah ini
tak secepat langkahmu
Ku akui jiwa ini tak
seputih jiwamu
Ku akui ku tak
seberani dirimu
Tapi lewat
tulisan-tulisan kecilmu ku dapat sebuah keberanian itu
Setiap kata yang kau
tulis mengandung makna
Kau bak angin
membawa harumnya bunga mawar bagiku
Setiap derap
langkahmu membawa sejarah baru
Kau ciptakan sejarah
itu karna kau mampu
Kau adalah inspirasi
bagiku
Dan bagi semua
generasi muda negeri ini
(oleh:
Ida)
Pahlawan
Devisa
Di awal musim
Telah kutanam
sejumlah mimpi
Pada padang yang
luas
Siapa tahu esok
pantas dituai
Namun, pada akhir
persinggahan
Aku menemukan segala
yang palsu
Dalam kebisuan kusuh
Dalam sebuah
kebungkaman dusta
Ke mana kularikan
tangis
Jika matamu tetap
mengurungku
Sedang orang-orang
selalu menggusur ratap
Demi ratap aku dan
sunyi
Maka kirimi aku
pisau, ibu…
Penyembelih rintih
yang kutahan-tahan
Sepanjang perantauan
Mereka bilang saya
pulang jadi jutawan
Tapi kubilang:
Persetan!
Kamilah pahlawan
devisa
Yang tak tersisa
(oleh: Ary Indah
Mustikasari)
Catatan : Bermimpilah selagi kau bisa bermimpi, Langkahkan selebar mungkin kakimu
Lihatlah mimpi yang kau torehkan dalam sejarah hidupmu
Dan lihatlah mimpimu dalam genggamammu.
Calon Guru Bahasa dan Sastra Indonesia
Bahasa
Indonesia adalah bahasa persatuan
negara Indonesia yang menyatukan beranekaragam bahasa daerah seluruh
masyarakat Indonaesia. Kita sebagai masyarakat Indonesia sangat
beruntung memiliki bahasa Indonesia, walaupun sebenarnya bahasa
Indonesia berakar dari bahasa Melayu Riau. Akan tetapi, sekarang
keduanya memiliki kedudukan masing-masing sebagai suatu bahasa dan
keduanya merupakan bahasa yang serumpun tetapi
tidak sama. Bahasa Indonesia berkembang sesuai dengan aturannya dan
bahasa Melayu berdiri sendiri menuju perkembangannya. Kita sebagai
pemilik bahasa Indonesia tidak bermaksud atau bersikap seperti
“kacang
yang lupa akan kulitnya”,
melupakan bahasa Melayu sebagai cikal bakal bahasa Indonesia. Mungkin
tanpa bahasa Melayu, bahasa Indonesia tidak akan pernah ada.
Seharusnya kita
memposisikan bahasa Indonesia pada posisinya, seperti yang telah
termaktub dalam Sumpah Pemuda. Sumpah Pemuda mengikrarkan tiga hal
yang sakral dalam sejarah dan proses kemerdekaan Indonesia, satu
diantaranya adalah “Menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa
Indonesia. Menjunjung berarti menurut,
menaati dan memuliakan (KBBI).
Menjunjung tinggi bahasa Indoensia, berarti menaati dan memuliakan
bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan nasional Indonesia.
Demikianlah sumpah yang diikrarkan oleh pemuda-pemudi bangsa
Indonesia pada tahun 1928. Bagaimana dengan pemuda-pemudi Indonesia
sekarang? Pudarnya bahasa Indonesia di negaranya sendiri merupakan
sebuah hal yang patut menjadi perhatian khusus. Jika kedudukan bahasa
Indonesia dibiarkan untuk terus digeser oleh bahasa-bahasa lainnya,
maka otomatis bahasa Indonesia tidak akan pernah lagi dikenal oleh
para generasi penerus. Melihat kondisi pemakai bahasa Indonesia saat
ini, penggunaan bahasa Indonesia yang berkelit dan selalu berpedoman
kepada yang baik dan benar sulit dihindari. Masyarakat pada umumnya
beranggapan bahwa “Yang
penting apa yang ingin kita sampaikan orang mengerti dan paham, mau
pake bahasa campur aduk,
saya
mau pake bahasa Indonesia campur bahasa Inggris, campur lagi dengan
bahasa daerah, toh yang baca juga paham. Cape deh, please dong jangan
diperbesar masalah-masalah kecil kayak gini”.
Benar dan pantaskah
bila kita sebagai pemilik bahasa Indonesia berasumsi demikian?
Masyarakat Indonesia pada umumnya dwibahasawan. Bukan berarti kita
bisa seenaknya mencampuradukkan bahasa Indonesia dengan bahasa lain
tanpa berpedoman pada aturan dan kaidah yang ada. Bersikap positiflah
terhadap bahasa Indonesia, karena bahasa yang kita gunakan
menunjukkan kepribadian kita sebagai bangsa Indonesia. Jepang dan
Prancis adalah contoh negara yang sangat taat dan menghargai
bahasanya sendiri. Pernahkah
kita berpikir bahasa Indonesia esok akan menjadi bahasa peradaban
dunia?
Bukan hal yang
mustahil jika bahasa Indonesia esok akan menjadi bahasa peradaban
dunia, karena bahasa Indonnesia digunakan sebagai bahasa
internasional. Dilihat dari struktur dan pembacaan bahasa Indonesia
yang sangat sederhana, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang tidak
sulit untuk dipelajari. Suatu bukti yang meyakinkan bila esok bahasa
Indonesia akan menjadi bahasa peradaban dunia, lebih dari 50 negara
di dunia telah mempelajari dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai
salah satu diantara mata pelajaran di sekolah mereka. Kita pemilik
bahasa Indonesia harus banggga karena bahasa kita dipelajari bangsa
lain. Mengapa kita harus belajar bahasa asing, bila bahasa kita kelak
mampu menjadi bahasa internasional dan bahasa peradaban dunia?
Jawaban dari pertanyaan tersebut ada pada diri kita sebagai pemilik
bahasa Indonesia.
Di samping pudarnya
pemakaian bahasa Indonesia, sastra Indonesia semakin menunjukkan
eksistensinya di dunia pendidikan. Pendidikan bahasa Indonesia
merupakan salah satu aspek penting yang perlu diajarkan kepada para
siswa di sekolah. Tidak heran, pelajaran ini diberikan sejak masih
dibangku SD hinga lulus SMA. Pengajaran sastra di lembaga pendidikan
formal dari ke hari mengalami berbagai persoalan. Keluhan-keluhan
para guru, subjek didik, dan sastrawan tentang rendahnya tingkat
apresiasi sastra selama ini menjadi bukti kongkret adanya sesuatu
yang tidak beres dalam pembelajaran sastra di lembaga pendidikan
formal.
Beberapa
permasalahan dalam pengajaran bahasa dan sastra Indonesia yaitu,
pengetahuan dan kemampuan dasar dalam bidang kesastraan para guru
sangat terbatas. Belum semua guru menguasai materi kesastraan yang
akan mereka ajarkan di sekolah-sekolah. Materi kuliah kesastraan yang
mereka peroleh lebih bersifat teoretis, sedangkan yang mereka
butuhkan di lapangan lebih bersifat praktis. Selain itu, buku dan
bacaan penunjang pembelajaran sastra di sekolah, khususnya di SMP dan
SMA juga terbatas. Keterbatasan buku penunjang ini tidak terjadi di
SD, khususnya di daerah perkotaan, karena setiap tahun menerima
kiriman buku bacaan dari Proyek Perbukuan Nasional Depdikbud.
Hanya saja,
pemanfaatan buku bacaan tersebut tampaknya belum maksimal karena ada
faktor lain yang berkait dengan ini, yaitu faktor minat siswa atau
subjek didik. Minat belajar dan minat membaca para siswa masih sangat
rendah. Faktor ketersediaan waktu, manajemen perpustakaan sekolah,
dan dorongan dari guru menjadi penyebab utama dalam hal ini. Berbagai
kendala di atas menyebabkan pengajaran sastra di berbagai jenjang
pendidikan formal hingga saat ini belum mencapai sasaran sebagaimana
yang diharapkan. Tujuan akhir pembelajaran sastra, penumbuhan dan
peningkatan apresiasi sastra pada subjek didik belum menggembirakan.
Beranjak dari
berbagai keluhan yang dikemukakan di atas, tampaknya ada beberapa hal
yang perlu dicermati ulang dalam pembelajaran sastra di sekolah
dengan menggunakan acuan kurikulum yang diberlakukan saat ini.
Pertama, dalam Kurikulum 1994 yang diberlakukan di SD, SMP, ataupun
SMA disebutkan bahwa pengajaran sastra dalam berbagai aspeknya
diarahkan pada penumbuhan apresiasi sastra para siswa sesuai dengan
tingkat kematangan emosionalnya. Hal ini mengisyaratkan bahwa
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran sastra idealnya
diarahkan pada penumbuhan apresiasi pada siswa. Apresiasi sebagai
sebuah istilah dalam bidang sastra dan seni pada umumnya lebih
mengacu pada aktivitas memahami, menginterpretasi, menilai, dan pada
akhirnya memproduksi sesuatu yang sejenis dengan karya yang
diapresiasikan. Kegiatan apresiasi tidak hanya bersifat reseptif
yakni menerima sesuatu secara pasif, tetapi yang lebih penting
apresiasi juga bersifat produktif yakni menghasilkan sesuatu secara
aktif. Karena itu, pengajaran sastra di lembaga pendidikan formal
idealnya tidak hanya sebatas pada pemberian teks sastra dalam genre
tertentu untuk dipahami dan diinterpretasikan oleh siswa (apresiasi
reseptif). Pengajaran sastra harus diarahkan pada penumbuhan
kemampuan siswa dalam menilai atau mengkritik kelebihan dan
kekurangan teks yang ada. Sebagai calon guru bahasa Indonesia dan
sastra daerah, kita harus membekali diri dengan pengalaman-pengalaman
yang nantinya dapat dipresentasikan di depan peserta didik.
(oleh:
Ida Anom Handayani )
Langganan:
Postingan (Atom)
