Jelata
di Negeri Kaya
Di tambang emas yang
kaya mereka menjerit-jerit
Mereka bagaikan kain
perca yang terbuang
Singgasana yang
mereka cintai sudah mencampakkannya
Hanya para penguasa
yang bisa hidup nyaman di singgasananya
Para penguasa
membunuh para jelata dengan kejamnya
Negeri ini memang
penuh fiktif belaka
Kaum jelata
seolah-olah menjadi budak para penguasa
(oleh:
Albar Y.)
Pada
Suatu Negara
Para penguasa negara
janjimmu hanya omong
kosongmu
janjimu hanya ucapan
manis
yang terasa pahit
gaya hidupmu
hanyalah barat
tetapi tingkahmu
hanyalah
kawanan bajing
loncat
Para penguasa negara
yang memikirkan
egomu
rakyat pun bingung
kerjamu
bisamu cuma bilang
“atas nama rakyat:
“demi
kesejahteraan rakyat”
tapi rakyat mana
yang kamu bela
semua sama saja
mereka hanyalah
korban
para penguasa negara.
(oleh:
Murdhiana Hendra)
Kisah
Negeriku
Negeriku yang dulu
Bagaikan negeri
imajinasi
Indah alamnya bak
lukisan tiga dimensi
Udara nan sejuk
tanpa polusi
Kuatkan hasrat tuk
menikmati
Sementara penduduk
negeriku
Memiliki martabat
dan reputasi
Banyak Negara
berikan apresiasi
Waktu bukan dari
segi intelegensi dan teknologi
Tapi karena budaya
yang khas dan beragam
Masyarakat yang
ramah dan religi serta bermoral
Serta generasi yang
berprinsip, bermental
Tapi kini…
Negeriku seperti ini
Negeri yang penuh
polusi
Negeri yang dipenuhi
korupsi
Menyengsarakan
rakyat sendiri
(oleh:
Yunia P.)
Ibunda
Tersayang
Ibu...selalu
mendoakan setiap langkahku
Menjalani hari
menjempu citaku
Ibu…selalu
memberikan kekuatan kepadaku
Dikala aku sedih dan
senang
Bercucuran air mata
bila teringat
betapa besar budi
ibu berikan kepadaku
Sungguh besar
pengorbanan yang ibu berikan
hingga tidak pernah
ku lupakan
Di saat kita
berjauhan
Rasa ingin pulang
selalu menghampiriku
Di setiap malam, ku
rindu belaian lembut darimu
Setiap malam mata
ini sulit kupejamkan
Ibu doamu selalu
kunanti
Siang malam ku
selalu teringat kepadamu
Tak aka nada bahagia
jika tiada
Doa dan resu yang
ibu berikan kepadaku
Oh…ibu ku
tersayang
(oleh:
Tri W.)
Sebuah
Keberanian
Ku akui langkah ini
tak secepat langkahmu
Ku akui jiwa ini tak
seputih jiwamu
Ku akui ku tak
seberani dirimu
Tapi lewat
tulisan-tulisan kecilmu ku dapat sebuah keberanian itu
Setiap kata yang kau
tulis mengandung makna
Kau bak angin
membawa harumnya bunga mawar bagiku
Setiap derap
langkahmu membawa sejarah baru
Kau ciptakan sejarah
itu karna kau mampu
Kau adalah inspirasi
bagiku
Dan bagi semua
generasi muda negeri ini
(oleh:
Ida)
Pahlawan
Devisa
Di awal musim
Telah kutanam
sejumlah mimpi
Pada padang yang
luas
Siapa tahu esok
pantas dituai
Namun, pada akhir
persinggahan
Aku menemukan segala
yang palsu
Dalam kebisuan kusuh
Dalam sebuah
kebungkaman dusta
Ke mana kularikan
tangis
Jika matamu tetap
mengurungku
Sedang orang-orang
selalu menggusur ratap
Demi ratap aku dan
sunyi
Maka kirimi aku
pisau, ibu…
Penyembelih rintih
yang kutahan-tahan
Sepanjang perantauan
Mereka bilang saya
pulang jadi jutawan
Tapi kubilang:
Persetan!
Kamilah pahlawan
devisa
Yang tak tersisa
(oleh: Ary Indah
Mustikasari)
Catatan : Bermimpilah selagi kau bisa bermimpi, Langkahkan selebar mungkin kakimu
Lihatlah mimpi yang kau torehkan dalam sejarah hidupmu
Dan lihatlah mimpimu dalam genggamammu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar